Senin, 23 Juni 2014

V/H/S 2

Ini film kedua yang saya copy dari warnet (I know this is illegal, but what the f**k dude, everybody do the same). Telat sih nontonnya karena film ini sudah ada sejak pertengahan 2013. Saya ga nonton di film pertama jadi mungkin i'm gonna lil bit confuse, but no. Film ini punya cerita sendiri yang beda dari yang sebelumnya yang membuat sama cuma konsepnya saja.




Sebagai seorang penggila film horror, tidak ada yang lebih indah dari mendapatkan beberapa sub-genre film dalam satu film ( ya maksudnya gitu lah). Semua campur dalam film ini, hantu, alien, gore dan zombie (this is my favorite part). Berasa beli minuman you c 1000 di indomart beli 2 dapet 1 (behahahaha).

Sebenernya temen-temen saya heran sama saya kenapa saya suka banget sama film horor? Dont ask why, karena cuma orang yang hidupnya flat yang ga suka film horor. Kapan lagi kita bisa liat setan (kecuali kalian turunannya ki Joko Bodo) bisa liat adegan pembunuhan mutilasi secara detail kalo bukan cuma di film? We can't find this kinda experience in the real world. Film horor tu nagih berohh, kaya tetangga saya ketagihan tempe goreng warung mbak fitri. Dan nonton film horor tuh ada hikmahnya, bahwa dunia kita sekrang ini jauh lebih indah dari dunia yang baru saja kita tonton. Saya justru ga habis pikir sama orang yang sukanya nonton film sedih, how come? gitu loh mereka nangis nonton film yang katanya menguras emosi.

Satu tips dari saya kalo kalian mau nonton film horor, lupakan plot, penggalian karakter, dan saudara-saudaranya. Karena semakin ga masuk akal maka semakin nikmat filmnya. Just sit down and enjoy the fuckin show...



So, di difilm ini konsepnya ga jauh beda sama pendahulunya (saya baca di google) mengajak kita menonton rekaman-rekaman kaset yang sudah pasti bukan untuk konsumsi anak-anak dan orang bepenyakit jantung. 

Cerita utamanya (judulnya Tape 49), menceritakan sepasang dektektif yang menyelidiki hilangnya seorang mahasiswa. Mereka menyelidiki langsung ke kosan si mahasiswa tersebut yang keliatannya kosong. Sebagai detektif Larry dan Ayesha tentu saja ga kenal takut. Di dalam rumah tersebut mereka menemukan tumpukan kaset video, laptop, dan beberapa televisi, sementara Larry keliling rumah Ayesha yang penasaran menonton kaset-kaset itu.



Video pertama berjudul Phase 1 Clinical Trial ceritanya tentang seorang pria yang baru aja operasi mata dan sekarang matanya adalah mata robot dan dengan tujuan pengembangan lebih lanjut matanya bisa ngerekam apa saja yang dilihat (kayanya sih keren abis). Tapi ternyata mata tersebut bisa melihat makhluk-makhluk beda alam. Menurut saya ini segmen yang paling ga banget, ide ceritanya buat para penyuka film horor pasti sudah familiar (The Eye, anyone please?). Trus juga terlalu mengandalkan jump scare, misalnya: ada suara di pintu (kamera menyorot ke pintu) trus kamera balik arah dan jrengg.....jrengg....jrengg... setan nonggol di belakang kita.




 so, ceritanya terlalu dibuat-buat menurut saya, iya sih canggih mata bionic tapi ya segitu canggihnya ya sampe bisa ngerekam suara juga? Alih-alih di hancurkan biar ga bisa liat setan lagi, kenapa ga di tutup aja macam Jack Sparrow gitu dehh...

Ayesha kayanya udah mulai terpengaruh situasi setelah nonton film pertama, karena masih penasaran nontonlah dia film kedua judulnya A Ride in The Park. This is gonna be my favorite part..



segmen ini di sutradarai oleh duo The Blair Witch Project ( woohoo kebayang serunya film ini). Segmen ini bercerita tentang seorang cowok yang lagi sepedaan di taman trus pakai kamera di helm-nya. Trus dia ketemu sama cewek yang terluka karena digigit oleh....................Zombie!!!!!!!!
Dan si cowok itu juga jadi zombie. Ini cerita yang paling menarik, karena sudut pandang kita adalah seorang zombie, bukan orang yang dikejar sama zombie. Setelah menyerang teman-temanya sekumpulan zombie ini menyerang sebuah pesta ulang tahun.
Endingnya cukup mencengangkan, karena para zombie ini akhirnya menemukan kesadaran manusiawinya.

Si Ayesha tiba-tiba mimisan dan migrain, Larry lalu ke apotek untuk beli obat. Sembari Larry keluar Ayesha nonton satu film lagi... judulnya Safe Haven



Familiar dengan aktor satu ini? yep your eyes still normal, ini adalah Epy Kusnandar sang Ayah. Jadi segemen ini adalah karya anak dalam negri yang dibilang cukup fantastic mengusung konsep gore yang baru di perfilman Indonesia. Film garapan Gareth Evans dan Timo Tjahjanto adalah segemen terkuat dalam film ini yang juga segmen terpanjang. Di bintangi oleh Fachry Albar, Oka Antara, Epy Kusnandar dan Hanna Al-Rashid, Wow.  Durasi 40 menit berhasil di eksekusi dengan apik oleh sutradara Indonesia ini. Segmen ini bercerita tentang 4 orang crew TV yang ingin mewawancarai seorang pemimpin sekte sesat di markasnya.  Ceritanya berjalan lambat, sembari membangun karakter sang tokoh yang disturbing bingit. 


Setelah pengenalan yang lumayan lama, then it's time to break the f**k up everything. "Waktunya sudah tiba" kata sang ayah. Dan kru TV itu terjebak dalam kegilaan- kegilaan yang mengerikan, seluruh anggota sekte itu bunuh diri. Dan dalam menit-menit selanjutnya lebih gila lagi, muncul makhluk-makhluk aneh, yang mati lalu bangkit lagi jadi zombie. It's really fantastic!!

Larry yang pulang dari apotek menemukan Ayesha yang sudah pingsan. Ga tau deh karena udah pusing banget apa karena saking takutnya. Karena penasaran Larry ikut nonton segmen yang terakhir.

Setelah semua energi tumpah ruah dalam segmen ketiga tadi, sulit rasanya mengikuti segmen terakhir yang berjudul Slumber Party Alien Abduction. Dari judulnya mungkin udah ketebak apa konsep dari segmen ini. What's make this difference adalah kameranya yang di pasang di anjing, unik sih. Tapi ceritanya tergolong standar. 



Sekelompok anak-anak yang lagi holidey di villa di culik satu persatu oleh alien. Dari segi gambar kurang bingit, dari segi suara lumayan. Apalagi ada dialog khas anak-anak ababil amerike getoh. Apalagi suara alien datang lumayan bagus, adegan kejar-kejaran yang chaos bingit, suara jeritan, teriakan, ledakan, gonggongan tumpah ruah jadi satu. Not really bad at all anyway.

Jadi si Larry kasian kebagian nonton yang biasa aje, muahahahaha. Setelah nonton segmen yang terakhir inilah Larry tau kalo mereka dirumah ga sendirian. Mahasiswa yang mereka cari ternyata masih di dalam rumah. Ending film ini yang mungkin pengen nakut-nakutin penonton jadi agak lumayan gagal. Karena setelah Safe Haven yang really fantastic tadi sisa film-nya jadi kehilangan energi.

Tapi pada intinya film ini saya rekomen buat kalian para penikmat horor. 
So, just enjoy the scene, enjoy the blood, enjoy the scare.


Lupyu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar